Minggu, 17 Februari 2019

Wilayah Pemanfaatan Panas Bumi Secara Langsung



WILAYAH PEMANFAATAN LANGSUNG ENERGI PANAS BUMI

18 February 2019
Widya Meify Patiro
patirowidya@gmail.com


Energi panas bumi juga dikenal dengan nama energi geothermal yang berasal dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani kata “geo” memiliki arti bumi dan kata “thermal” memiliki arti panas jadi ketika digabungkan kata geothermal memiliki arti panas bumi. Energi panas bumi sendiri dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi.
Menurut UU No. 27 Tahun 2003 Tentang Panas Bumi, sumber daya panas bumi adalah suber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik atau pemanfaatan langsung lainnya.
Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah untuk menghasilkan energi listrik. Pemanfaatan energi panas bumi untuk pembangkit listrik secara garis besar dilakukan dengan cara melihat resource dari panas bumi tersebut. Apabila suatu daerah memiliki panas bumi yang mengeluarkan uap air (steam), maka steam tersebut langsung dapat digunakan. Steam tersebut secara langsung diarahkan menuju turbin pembangkit listrik untuk menghasilkan energi listrik.
Namun, bila panas bumi itu penghasil air panas (hot water), maka air panas tersebut harus di ubah terlebih dahulu menjadi uap air (steam). Proses perubahan ini membutuhkan peralatan yang disebut dengan heat exchanger, dimana air panas ini dialirkan menuju heat exchanger sehingga terbentuk uap air.  (smiagiaundip.wordpress)
Sekitar 40% cadangan energi geothermal dunia terletak di Indonesia. Diperkirakan memiliki cadangan-cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. Cadangan energi panas bumi yang terbesar terletak di wilayah barat Indonesia dimana ada permintaan energi yang paling tinggi: Sumatra, Jawa dan Bali. Sulawesi Utara adalah provinsi yang paling maju dalam penggunaan geotermal untuk energi listrik: sekitar 40% dari pasokan listriknya didapat dari energi geothermal. (Indonesia-investments.com)
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang tersebar pada 250 lokasi, dengan total potensi sekitar 29.000 megawatt. Seperti di Sulawesi utara, terdapat 3 lokasi panas bumi, diantaranya Lahendong, yang merupakan lapangan panas bumi pertama di kawasan Indonesia Timur yang memproduksi listrik. Kemudian dua lokasi lainnya yaitu di Tompaso dan Kotamobagu.
Lahendong yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia, 30 km sebelah selatan Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, merupakan sistem panas bumi dominasi air dan merupakan lapangan panas bumi pertama di kawasan Indonesia Timur yang memproduksi listrik. Dua lokasi potensi panas bumi lainnya di Sulawesi Utara, yaitu Tompaso (Ganda dan Sunaryo, 1982; Prijanto et al., 1984) dan Kotamobagu (Andan, 1982); keduanya ditunjukkan pada Gambar 1. Terjadinya aktivitas termal di Sulawesi Utara (terutama di sebelah barat daya Danau Tondano) tercatat oleh A.R. Wallace, seorang naturalis Inggris yang mengunjungi Sulawesi pada tahun 1859 (Wallace, 1890 dengan pengenalan oleh Whitten, 2008).

Gambar 1. Lokasi sistem panas bumi Lahendong (1) dan Tompaso (2) serta Kotamobagu (3) dengan gunung apiKuarter di Sulawesi Utara (disusun dari Ganda dan Sunaryo, 1982; Prijanto et al., 1984; Andan, 1982; Morrice et al., 1983). Inset: Peta Indeks yang menunjukkan posisi Sulawesi Utara dalam Kepulauan Indonesia.

Lahendong pertama kali diteliti sebagai prospek panas bumi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyadari peningkatan permintaan listrik di Sulawesi Utara (yang dulu juga dikenal sebagai Minahasa) dan sulitnya mengembangkan sumber daya energi lokal lainnya. Dari 1976 – 1978, PVMBG bekerja sama dengan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) melakukan serangkaian survei geologi, geokimia dan geofisika.
Penelitian tersebut dilanjutkan dengan pengeboran tiga sumur slim holes (7,3 cm) dengan kedalaman sekitar 350 m di sisi barat Danau Linow pada tahun 1981-1982 (Prijanto et al., 1984; Suari et al., 1986). Pada tahun 1980, Pertamina ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Lapangan Panas Bumi Lahendong, dengan target produksi listrik sebesar 55 MWe. Proyek pembangunan dimulai dengan eksplorasi geosains yang mendetail (Suari et al., 1987).
Produksi listrik pada lapangan ini mulai beroperasi pada bulan Agustus 2001. Hingga 28 Juli 2016, Lapangan Panas Bumi Lahendong terdiri atas 10 Klaster dengan total 36 sumur telah dibor sampai kedalaman berkisar 1.500-2.500m sedangkan Lapangan Panas Bumi Tompaso (proyek Lahendong unit 5 dan 6) terdiri atas 5 klaster dengan total 14 sumur panas bumi. Pasokan listrik oleh PGE dihasilkan oleh pengembangan dan pengoperasian Unit 1, 2, 3, dan 4 dengan kapasitas masing-masing unit sebesar 20 MW. Unit 1, 2, 3, dan 4 tersebut menghasilkan uap yang lalu disalurkan kepada PT. PLN untuk diubah menjadi energi listrik melalui PLTP milik PT. PLN.           
Pemanfaatan langsung fluida panas bumi dari lapangan ini digunakan dalam proses pengeringan gula aren (proyek bersama antara PGE dan Badan Energi Atom Indonesia/BATAN) yang telah dilakukan sejak tahun 2008.Selain manfaatnya untuk pembangkit listrik, sistem panas bumi juga berperan sebagai laboratorium alam untuk mempelajari panas bumi baik dalam bidang ilmu kebumian, keteknikan/rekayasa pemanfaatan, maupun dari keanekaragaman hayati yang dimiliki. Beberapa penelitian ilmu kebumian dan teknik panas bumi di Sulawesi Utara telah dilakukan melalui program UGM-NZAID Community Resilience and Economic Development (CaRED). 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar