WILAYAH
PEMANFAATAN LANGSUNG ENERGI PANAS BUMI
18 February
2019
Widya Meify Patiro
patirowidya@gmail.com
Energi panas bumi juga dikenal dengan nama
energi geothermal yang berasal dari bahasa Yunani. Dalam
bahasa Yunani kata “geo” memiliki arti bumi dan kata “thermal” memiliki
arti panas jadi ketika digabungkan kata geothermal memiliki arti panas bumi. Energi panas
bumi sendiri dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi.
Menurut UU No. 27 Tahun 2003 Tentang Panas
Bumi, sumber daya panas bumi adalah suber energi panas yang terkandung di dalam
air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang
secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi
dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan yang dapat dimanfaatkan
untuk pembangkitan tenaga listrik atau pemanfaatan langsung lainnya.
Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah
untuk menghasilkan energi listrik. Pemanfaatan energi panas bumi untuk
pembangkit listrik secara garis besar dilakukan dengan cara melihat resource dari
panas bumi tersebut. Apabila suatu daerah memiliki panas
bumi yang mengeluarkan uap air (steam), maka steam tersebut langsung dapat digunakan.
Steam tersebut secara langsung diarahkan menuju turbin pembangkit listrik untuk
menghasilkan energi listrik.
Namun, bila panas bumi itu penghasil
air panas (hot water), maka air panas tersebut harus di ubah
terlebih dahulu menjadi uap air (steam). Proses perubahan ini membutuhkan peralatan
yang disebut dengan heat exchanger, dimana air panas ini dialirkan
menuju heat exchanger sehingga terbentuk uap air. (smiagiaundip.wordpress)
Sekitar 40% cadangan energi
geothermal dunia terletak di Indonesia. Diperkirakan memiliki cadangan-cadangan
energi panas bumi terbesar di dunia. Cadangan energi panas bumi yang terbesar
terletak di wilayah barat Indonesia dimana ada permintaan energi yang paling
tinggi: Sumatra, Jawa dan Bali. Sulawesi Utara adalah provinsi yang paling maju
dalam penggunaan geotermal untuk energi listrik: sekitar 40% dari pasokan
listriknya didapat dari energi geothermal. (Indonesia-investments.com)
Indonesia memiliki potensi
panas bumi yang tersebar pada 250 lokasi, dengan total potensi sekitar 29.000
megawatt. Seperti di Sulawesi utara, terdapat 3 lokasi panas bumi, diantaranya
Lahendong, yang merupakan lapangan panas bumi pertama di kawasan Indonesia
Timur yang memproduksi listrik. Kemudian dua lokasi lainnya yaitu di Tompaso
dan Kotamobagu.
Lahendong yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia,
30 km sebelah selatan Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, merupakan sistem
panas bumi dominasi air dan merupakan lapangan panas bumi pertama di kawasan
Indonesia Timur yang memproduksi listrik. Dua lokasi potensi panas bumi lainnya
di Sulawesi Utara, yaitu Tompaso (Ganda
dan Sunaryo, 1982; Prijanto et al., 1984) dan Kotamobagu (Andan, 1982); keduanya ditunjukkan pada
Gambar 1. Terjadinya aktivitas termal di Sulawesi Utara (terutama di sebelah
barat daya Danau Tondano) tercatat oleh A.R. Wallace, seorang naturalis Inggris
yang mengunjungi Sulawesi pada tahun 1859 (Wallace,
1890 dengan pengenalan oleh Whitten, 2008).
Lahendong pertama kali diteliti sebagai prospek
panas bumi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) setelah
Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyadari peningkatan permintaan listrik di
Sulawesi Utara (yang dulu juga dikenal sebagai Minahasa) dan sulitnya
mengembangkan sumber daya energi lokal lainnya. Dari 1976 – 1978, PVMBG bekerja
sama dengan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) melakukan serangkaian
survei geologi, geokimia dan geofisika.
Penelitian tersebut dilanjutkan dengan
pengeboran tiga sumur slim holes (7,3 cm) dengan kedalaman sekitar 350
m di sisi barat Danau Linow pada tahun 1981-1982 (Prijanto et al., 1984; Suari et al., 1986). Pada tahun 1980,
Pertamina ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Lapangan Panas
Bumi Lahendong, dengan target produksi listrik sebesar 55 MWe. Proyek
pembangunan dimulai dengan eksplorasi geosains yang mendetail (Suari et al., 1987).
Produksi listrik pada lapangan ini mulai
beroperasi pada bulan Agustus 2001. Hingga 28 Juli 2016, Lapangan Panas
Bumi Lahendong terdiri atas 10 Klaster dengan total 36 sumur telah dibor sampai
kedalaman berkisar 1.500-2.500m sedangkan Lapangan Panas Bumi Tompaso (proyek
Lahendong unit 5 dan 6) terdiri atas 5 klaster dengan total 14 sumur panas
bumi. Pasokan listrik oleh PGE dihasilkan oleh pengembangan dan pengoperasian
Unit 1, 2, 3, dan 4 dengan kapasitas masing-masing unit sebesar 20 MW. Unit 1,
2, 3, dan 4 tersebut menghasilkan uap yang lalu disalurkan kepada PT. PLN untuk
diubah menjadi energi listrik melalui PLTP milik PT. PLN.
Pemanfaatan langsung fluida panas
bumi dari lapangan ini digunakan dalam proses pengeringan gula aren (proyek
bersama antara PGE dan Badan Energi Atom Indonesia/BATAN) yang telah dilakukan
sejak tahun 2008.Selain manfaatnya untuk pembangkit listrik, sistem panas bumi
juga berperan sebagai laboratorium alam untuk mempelajari panas bumi baik dalam
bidang ilmu kebumian, keteknikan/rekayasa pemanfaatan, maupun dari
keanekaragaman hayati yang dimiliki. Beberapa penelitian ilmu kebumian dan
teknik panas bumi di Sulawesi Utara telah dilakukan melalui program UGM-NZAID
Community Resilience and Economic Development (CaRED).
